Yihaaa ... jalan-jalan ke Jakarta lagi. Kali ini dalam rangka Workshop
Cerita Konyol yang digelar oleh Penerbit Noura Books yang mendaulat saya
sebagai narasumbernya. Ecieee ... gaya banget, ya? Halah, ya iyalah
Noura minta saya yang jadi narasumber, soalnya workshop ini kan dalam
rangka promo novel saya terbaru juga; Cewek-Cewek Tulalit - Traveling Gokil. Udah pada beli, kan? Belum? Hiks... beli atuh, kan biar novel saya laku dan best seller. Hehehe ... melas banget ya?
Rabu malam saya berangkat, biar bisa ngejar pagi sampai Jakarta. Soalnya
kalau berangkat pagi alamat nggak bakalan tiba tepat waktu. Apalagi
acaranya di Mizan Book Store di Depok. Hiyaa ... masih jauh lagi dari
Jakarta. belum lagi antisipasi macetnya, nyasarnya, dan lain-lain.
Makanya, berangkat lebih cepat lebih baik. Yah, bengong-bengong bentar
di terminal nunggu siang sih nggak masalah lah ya.
Yang bikin ribet kalau mau berangkat malam itu adalah; naik apaan ke
terminal bus? Saya biasanya ngejar bus yang berangkat pukul 12, dan
jam-jam segitu tuh susah banget nyari angkutan umum. Ojeker masih
kepagian buat nongkrong di perempatan-perempatan, angkot udah jarang
yang lewat, dan Iren males nganterin dengan alasan; "Nanti Ibu pulangnya
sama siapa? Nggak mau kalau nyetir sendirian mah. Takut malem-malem di
luar sendirian." Hiiiy ... nggak bisa aja lihat suaminya pergi dengan
nyaman ke terminal.
Ya wes, akhirnya seperti biasa saya membulatkan tekad untuk menerjang
setiap halangan *halah*. Saya harus berjalan menyusuri jalan sambil
celingukan nyari tukang ojek yang sudah mangkal, atau angkot yang
mungkin akan lewat. Kalau tidak beruntung? Jalan kaki dah sampe
terminal. Tapi ternyata eh ternyata, hujan turun dengan indahnya
sodara-sodara, bikin saya langsung layu sebelum berkembang. Gimana
ceritanya saya bisa ke terminal kalau hujan begini. Lagian, rumah saya
kan agak-agak nyempil gitu dari jalan raya. Harus jalan kaki lagi
sekitar 500 meteran melewati gang dan belokan. Bawa payung? Aiiih ...
cakep bener ya? Dan saya pun menunggu detik demi detik menunggu malam
dengan gelisah, memandangi gerimis yang semakin deras. *hadeuh,
bahasanya deh coba*
Gerimis mereda, tapi saya belum tenang. gerimis begini ojeker pun makin
bakalan susah dicari. Naik beca? Hiyaaa ... jam segini bisa nemu beca di
mana? Dan .... datanglah penyelamat itu. Mamah mertua datang dan kaget
melihat menantu tersayangnya lagi dilanda bimbang. Setelah nanya
ini-itu, akhirnya Mamah bilang kalau pacar adik iren yg bungsu ada di
rumah, lagi jadwal ngapel hari Rabu (ada gitu?). "Suruh dia yang ngantar
aja, biar nanti Mamah yang ngomong." Dan saya pun langsung bersorak
gembira! Yipiiiiie ... Ibuku, Pahlawanku.
Setengah 11 malam, pacar adik saya datang ke rumah buat jemput. Kayaknya
dia sudah mulai diusir Mamah karena ngapelnya kelamaan. Lagian, masih
ada hari esok, kan? Sebenernya, setengah 11 itu masih kesorean, karena
saya kan berniat naik bus yang jam 12. Tapi daripada nggak ada tumpangan
ke terminal, nggak papalah cengo sejaman di terminal. So, melompatlah
saya ke jok motornya; "Tarik Bang!" *lo kira ojek?*
Sebenarnya rumah si cowok ini berlawanan sama terminal. Tapi, berhubung
dia takut calon kakak iparnya nggak merestui hubungan mereka, dan
akhirnya malah menghambat kisah cinta mereka, akhirnya dia harus pasrah
nganter saya ke terminal. Masih gerimis, dan sepanjang jalan saya
ngumpet dibalik badannya yang tinggi. Lumayan anget. Tapi calon iparku
ini kayaknya mulai menggigil. Eh, tengah jalan hujan malah ngegedein.
"Hujan A, gimana?" tanya dia.
"Gapapa, tanggung udah deket," jawab saya sambil makin meringkuk dibalik badannya.
Calon adik saya itu ngangguk, tapi saya yakin dia lagi ngedumel; "Lo
yang gapapa, gue yang kedinginan tahu!" Hihihi ... maaf ya Dek, kalau
mau mengambil hati calon kakak, mending nurut aja. Perjuangan itu
diperlukan kok untuk mencapai kemenangan. *apa coba?*
Akhirnya, tibalah saya di terminal. Setelah dadah-dadah dengan si calon
adik, saya pun duduk manis menunggu. Baru jam sebelas. Bus menuju
Jakarta sudah siap sih, tapi masa iya harus naik yang jadwal sekarang.
Bukan apa-apa, entar sampe Jakarta kepagian. Yasud, mending twitteran
dulu dan apdet status BBM. Eh, baru aja ganti status, BBM bunyi. Ada
pesan dari Candra, teman masa kuliah yang sekarang tinggal di Ciamis.
"Wok, mau ke Jakarta? Candra juga. Ini lagi meluncur menuju pool bus."
Ihiiir ... pucuk dicinta Candra pun tiba, akhirnya bisa punya teman di
perjalanan menuju ibu kota. Teman bobo di bus maksudnya, lah baru
ngobrol bentar aja kita udah pada teler. Hehehe.
Jam 5 pagi nyampe deh di Kampung Rambutan. Say bye to Candra, lalu
ngacir ke masjid, Subuhan sekalian selonjoran dulu barang sekejap.
Soalnya, Mba Dee dari NouraBooks
berencana untuk menjemput. Asyik dah, enak nggak perlu pusing bakalan
nyasar di rimba betawi seperti biasanya kalau saya pergi ke Jakarta. Jam
6 Mba Dee datang bersama seorang sopir taksi, eh maksudnya jemput pake
taksi, lalu segera menculik saya ke kantor Noura Books
di wilayah Jagakarsa. Horeeey ... senang banget akhirnya bisa
menyatroni kantor penerbit yang sudah menerbit beberapa novel saya ini.
Lebih senang lagi karena di sana saya bisa numpang mandi, ganti baju,
terus dikasih sarapan. *Ups, kelihatan banget kelaparannya nih*
Mandi sudah, ganti baju sudah, sarapan sudah, eh di kamar ada kasur
empuk pula. Tiduran deh sampe akhirnya kepulesan! Hiyaaaa ... tamu nggak
sopan! Sudah dikasih numpang mandi, dikasih sarapan, eh malah sekarang
ikut bobo. Sampe nggak sadar kalau Mba Dee nge-BBM ngajak kumpul bareng
kru Noura Books untuk berdoa bersama memulai pagi. *ngumpet di lemari*
Jam setengah 9 bangun dong, karena nggak mungkin kan numpang bobo sampai
siang? Woy, saya ke sini kan buat ngasih workshop, bukan numpang tidor!
Mba Dee ngajak saya Noura Tour, keliling kantor Noura sambil
dikenalin sama seluruh staf yang ada. Horeeeey ... akhirnya kenalan sama
semua orang yang berada di belakang layar buku-buku saya selama ini.
Ketemu mas Noor H. Dee yang sudah menjadi editor untuk 3 novel saya,
ketemu Pak Deden Ridwan, Person in Charge-nya Noura Books, dan semuanya.
Terima kasih banyak semua atas kerjasamanya selama ini.
Jam sembilan, saya bersama Mba Dee dan Mba Putri meluncur ke Depok Mall.
Tujuannya adalah Mizan Book Store, dimana Workshop Menulis Cerita
Konyol akan segera dilangsungkan. Hiyaaaa ... mulai deh gemeteran. Ini
adalah kali pertama saya jadi pembicara dalam sebuah workshop yang
membahas tentang proses menulis cerita konyol! Nah loh, bisa ngomongnya
nggak saya nanti? Bismillah ....
Perlahan tapi pasti, peserta workshop berdatangan satu per satu. Ada
beberapa yang sudah saya kenal, dan ada pula yang benar-benar baru
bertemu saat itu. Senangnya kegiatan seperti ini memberi kesempatan saya
bertemu teman-teman baru. Peserta yang terdaftar ada 45 orang, sesuai
dengan kuota ruangan yang tidak terlalu luas. Langsung merinding melihat
semua kursi mulai terisi penuh. Mudah-mudahan mereka tidak sia-sia
sudah jauh-jauh datang ke sini, dan ada -minimal- sesuatu yang bisa
mereka peroleh dari semua ulasan saya nanti.
Dan, seperti apakah cerita tentang workshopnya itu sendiri? Kayaknya mending baca sendiri ulasannya di Annida Online dan TNol.co.id - Portal Komunitas yang pada saat itu datang meliput.
Ow, perjalanan saya di Depok belum selesai. Tuntas dengan workshop ini,
saya harus segera meluncur ke Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas
Indonesia, karena ada talkshow 'Traveling Gokil' di event UI BookFest
yang digelar sore hari. Hayuk, lanjuuuut.
Ini adalah kali pertama saya memasuki Universitas Indonesia, jadi cukup
excited juga. Suasananya hijau royo-royo banget, asyik! Jadi ngebayangin
kuliah di sana, terus setiap ada waktu kuliah kosong bisa
nongkrong-nongkrong di bawah pohon sambil ngobrol, pacaran, atau nyontek
tugas kuliah (Hus!). Yang jelas, berasa jadi mahasiswa lagi pas masuk
area ini. *nggak sadar diri emang*
Ey, di auditorium IX tempat akan diselenggarakan talkshow ini ketemu Maknyak Labibah Zain, founder Blogfam.com
yang ternyata lagi ikut konferensi internasional tentang perpustakaan
di tempat ini. Horeee ... kopdar dadakan. Bahkan gara-gara tahu saya
akan talkshow di sana, Maknyak rela bolos di kegiatan selanjutnya.
hihihi ... *peluk Maknyak*
Ternyata talkshow di sini pun tidak kalah serunya, hanya saja
atmosfernya memang terasa beda. Ruangannya lebih luaaas ... dan
pesertanya mahasiswa semua! Wow, gemeteran lagi, takut mereka
nanya-nanya yang saya nggak bisa jawab, soalnya mahasiswa kan suka
kritis nanyanya. hehehe .... alhamdulillah, semuanya berjalan dengan
lancar. Setidaknya, semua pertanyaan yang masuk saya jawab dengan
kapasitas yang saya ketahui. Kalau kurang puas, maaf yaaa. ^_^
Talkshow harus dihentikan karena sudah masuk adzan magrib. Satu setengah
jam memang nggak kerasa ya. Sudah saatnya kegiatan saya di Depok
disudahi. Setelah salat magrib, dinner di cafe Al4a (alay? hihihi) yang
ada di fakultas komunikasi (bener ya?), saya pun diantar Mba Dee kembali
ke habitatnya. Eh, ke terminal Kampung Rambutan! Sudah pukul delapan
lewat saat saya tiba di terminal, dan saya pun bersay goodbye pada Mba
Dee yang sudah menemani saya seharian itu. Tengkyu Mba Dee, sudah jemput
dari pagi buta, nganter ke mana-mana, jadi moderator workshop dan
talkshow, sampai kembali nganterin ke terminal. Nggak sekalian nganterin
ke Tasik? *Jitak!* hehehe ... #Kidding
Sejam kemudian, saya sudah terombang-ambing lagi dalam bus malam yang
membawa saya pulang. Nyampe pukul 3 pagi di kota Tasik disambut gerimis
mengundang. Hiiiy ... kejadian lagi harus ujan-ujanan. Yawes, gapapalah,
toh sekarang mah ujan-ujanannya pulang ke rumah.
"OJEEEEEEK!"
Catatan : Postingan ini juga bisa dibaca di sini




Temen bobo kang? *memicingkan mata*
ReplyDeletewhoahahaha calon adek ipar.. kesiannya kaaauuuu *logat batak*
ReplyDeletesungkem sama penulis dulu nih.
ReplyDeleteAsyi yaa, di Tasik hujan mulu. Di Balikpapan belum merata.
Asap buat pengap! Transfer dong hujannya ke Kaltim ~_*